Kamis, 24 Maret 2011

MASYARAKAT HAUS SPIRITUALITAS



Segala tindakan dilakukan masyarakat meskipun dapat merugikan orang lain, seperti halnya berbagai cara yang dilakukan para pedagang jajanan anak – anak. Seperti  hasil penelitian oleh koordinator field laboratorium fakultas kedokteran universitas sebelas maret diffah hannim. Jajanan anak- anak yang dijual di area sekolah ataupun makanan kemasan rawan zat – zat berbahaya seperti sakarin dan siklamat yang biasa digunakan lebih dari ambang batas. Penggunaan sakarin dan siklamat akan membuat pemenis jajanan. Tidak hanya pemenis saja namun, pewarna non makanan juga sering dijumpai pada jajanan anak- anak seperti metanil  yellow dan rodamin.  Bahkan ada pedagang yang dengan sengaja mencampurkan formalin kedalam makanan.
Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin terus menerus tentunya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Keluhan seperti pusing, mual serta diare dapat terjadi seketika setelah seseorang mengkonsumsi jajanan tersebut. Tapi yang berbahaya yaitu penggunaan bahan makanan tersebut dalam jangka waktu yang lama akan mengganggu organ tubuh seperti ginjal , mengkonsumsi formalin bisa mengakibatkan kanker.  
Beberapa waktu yang lalu yayasan kakak melakukan penelitian di beberapa sekolah dasar di daerah semanggi. Hasilnya SD yang terletak dipinggiran proteksinya relative kurang dibandingkan dengan SD di wilayah kota bahkan di salahsatu SD pinggiran tersebut ditemukan 22 pedagang makanan berjualan bersamaan setelah pulang sekolah  tapi mayoritas tidak memperhatikan higeinis bahan baku maupun kemasan (sloops sabtu 8 januari 20011)
Padahal pada pelaku tersebut apabila dilihat dari KTP nya juga beragama, seharusnya mereka tidak melakukan hal- hal yang dilarang oleh agama, seakan perilaku mencelakakan orang lain bukan perilaku bukan pebuatan dosa. Agama apapun saya yakin sangat mengecam perilaku yang dapat mencelakakan oranglain. Namun nampaknya kehadiran agama dalam diri mereka belum mampu menjinakkan perilaku yang merugikan orang lain. Mereka sadar dengan perilaku yang dapat membahayakan orang lain tetapi tindakan tersebut masih dilakukan demi mendapatkan penghasilan yang banyak dengan instan dan modal sedikit.
Mengapa masyarakat dalam beragama hanya pada covernya saja? namun isinya tidak diperhatikan. Padahal esensi yang terpenting dalam beragama adalah ruhnya. Jadi dapat dikatakan bahwa masyarakat masih haus dengan spiritualitas.
Kecerdasan spiritual
            Manusia saat ini krisis akan spiritualitas jadi mereka sangat membutuhkan spiritualitas dalam menghadapi tantangan hidup. Agar mereka dapat menjalani kehidupan sesuai dengan jalur yang lurus dan norma – norma yang ada dapat ditaati, serta rasa empati kepada sesama manusia dimiliki. 
            Adanya landasan kecerdasan spiritual adalah kesadaran akan hadirnya tuhan dalam setiap situasi . dan merasakan kebersamaan dirinya dengan Tuhan dalam setiap situasi. Kesadaran spiritual yang tinggi senanatiasa menghadirkan tuhan. Didalam dirinya akan menekan perilaku – perilaku yang tidak baik termasuk perilaku yang dapat mencelakakan orang lain demi kepentingan pribadinya.
Kecerdasan spiritual, Tokohnya : Danah Zohar dan Ian Marshall. Merupakan kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain à menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya  SQ berkembang sekitar tahun 2000an. Kecerdasan spiritual Merupakan kecerdasan ruhaniah/hati/jiwa yang diperlukan untuk menghadapi persoalan makna atau value merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsiksn IQ dan EQ secara efektif. Seseorang yang memiliki SQ tinggi mungkin akan menjalani agama tertentu namun ia tidak akan bersikap picik, eksklusif, ekstrem sebaliknya ia akan menunjukkan sikap inklusif, toleran pluralis à SQ mengembalikan manusia pada mahluk spiritual yang  merupakan fitrahnya (kembali pada agama)
        Tanda-tanda SQ telah berkembang dengan baik (Zohar & Marshall) yaitu : Kemampuan bersikap fleksibel, Tingkat kesadaran yang tinggi, Kemampuan untuk menghadapai dan memanfaatkan penderitaan, Kemampuan untuk menghadapi dan melampui rasa sakit, Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik), Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau ‘bagaimana jika’ untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
Jika terpengaruh dengan situasi dan kondisi yang mendesak pedagang jajanan melakukan tindakan yang merugikan orang lain dengan tidak memberhatikan higeinis bahan baku maupun kemasan dari bahan – bahan yang berbahaya. Mereka langsung ingat tuhan jika melakukan perbuatan buruk. Dia sadar akan mengecewakan tuhannya yang senanntiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu.
Spiritualisasi sebagai salah satu metode pendidikan akhlak dan pembinaan jiwa islami.
Sesungguhnya spiritualisasi islam adalah metode agama dalam pembinaan jiwa dan pendidikan akhlak manusia, karena pokok  – pokok ajarannya berdasarkan Al- Qur’an dan Hadits. Spiritualisasi islam sebagai metode Allah bagi manusia diletakkan atas dasar kodrat, kemampuan naluri, fitrah dan kenyataan historisnya. Maksudnya metode ini dalam pelaksanaan dan keberhasilannya menekankan usaha dan peran aktif manusia itu sendiri dalam mengembangkan potensi jiwa yang dimilikinya. Tanpa usaha dan jihad dari orang yang berspiritualisasi sulit metode ini terwujud dan mencapai keberhasilan . dengan kata lain, spiritualisasi islam hanya bisa terwujud dengan iusaha manusia sendiri dalam lingkup batas kemampuan dan fitrah manusiawinya serta batas – batas kenyataan hidupnya.
Alasan diletakkannnya metode spiritualisasi islam diatas batas – batas kemampuan manusia adalah bertujuan untuk menjadikan hidayat sebagai buah dari usaha, dan perliunya jihad bagi manusia dalam mendapatkan hidayat Allah agar manusia tidak pasif dalam hidupnya. Karena hakikat dalam hidup itu adalah usaha atau jihad disamping akhidah ( iman)
Alasan kedua bertujuan agar fitrah manusia tetap berfungsi, tidak menjadi lemah, dan hilang. Maksudnya adalah agar fitrah manusia tetap tahir dan Zakiyah, serta tidak terjadi menjadi kotor dan merosot derajatnya. Alasan terakhiir ialah agar manusia mampu bersabar dalam menghadapi cobaan , mencegah kebinasaan dirinya dan orang lain. Sebab kehidupan manusia tidak lepas dari ujian dan cobaan. Seperti ketika manusia dihimpit dalam kesulitan ekonomi,  berbagai tindakan telah dilakukan, seperti halnya pedagang jajanan yang tidak mempedulikan keselamatan orang lain, demi meraih kepentingan pribadi.
Para sufi dalam aliran tasawuf ada tiga jalan intuk menempuh tiga jalan (periode) untuk sampai dekat kepada Allah. Yaitu yang pertama mengkosomngkan jiwa dari sifat tercela., yang kedua mengisi jiwa dengan berbagai sifat terpuji, dan period eke tigashuhud dan stabat pada hadirat Allah. Termasuk alghojali juga menempuh ketiga hal tersebut.
Apabila hati sudah dekat dengan Allah maka dan tetap bersamaNya niscaya terbukalah baginya keagungannNya, cermelanglah baginya cahaNya cahaya kebenaran,dan lahir dalam hatinya sifat kebaikan Allah. Inilah yang dimaksudkan al-kasyf., dimana jiwa dapat menikmati kelezatan dan kebahagiaan yang tertinggi dengan Allah.dengan demikian spiritualisasai islam tidak saja dimaksudkan sebagai metode tazkiyah an nafs. Tetapi juga meliputi tajalli diri dalam ber ibadat, bertaqorrub, dan berdzikir kepada Allah. Dengan kata lain metode spkiritualisasi islam juga dimaksudkan sebagai wassilah mencapai al mukasyafah bagi keagungan Allah, terjalli diri untuk memperroleh nur serta kebenarranNya, dan syuhud bagi keindahan wajahnya. Disamping pengembangan fitrah yang dimilii manusia dengan  ajaran ibadat, al ‘adat, dan almukhlikat, dan almu’jizat.
Metode pembinaaan mental dan dan pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membentuk  kebagusan akhlak. Serta kesehatan jiwa atau mental. Jiwa yang sehat umumnya bersumber dari akhlak terpuji, sebaliknya jiwa yang sakit bersumber pada akhlak tercela. Selannjutnya Akhlak terpuji merupakan sifat dan amal utama para rosul dan assidiqin. Sebaliknya akhlak tercela merupakan sifat dan pekerjaan setan dan menjauhkan diri dari Allah.
Ketidalan kekuatan akal, nafsu, dan sifat marah, kesempurnaan hikmah serta ketaatan nafsu dan amarah kepada akal dan agama yang menjadi landasan (syarat) yang menjadi landasan kepada ketidalan dan pembentukan kebagusan akhlakserta kesehatan jiwa menurut alghojali dapat berhasil dengan memenempuh dua jalan SEbagai berikiut:
1.      Dengan karunia Allah dan kesempurnaan fitrah yang telah didapat seseorang dari Allah. Maksudnya Allah telah menjadikannya dan melahirkannya dengan akal yang sempurna, akhlak yang mulia, serta kekuatan marah dan nafsu yang bisa terkondisikan, dan taat kepada akal dan agama. Orang seperti I I dapat menjadi alim tanpa belajar.
2.      Diusahakan dengan mujahadat ridayat annafs, dan tahdzib al akhlaq, metode ini antara lain dapat dilakukan dengan penanaman adat kebiasaan yang baik.
Dapat disimpulkan bahwadalam pendidikan islam tidak saja menggunakan metode pembentukan adat kebiasaan , tetapi juga menggunakan metode spiritualisasi islam yang mencakup berbagai aspek. 
Tingkat dan kualitas ketaatan spiritualitas.
            Kemampuan manusia  dalam mencapai tujuan spiritualisasi is;am itu tidaklah sama antara satu dan lainnya. Orang yang kuat kadar kemampuannya, tentu mendapatkan hasil dan tujuan yang lebih tinggi. Sebaliknya orang yang lemah kadar kemampuannya, tentu mendapatkan hasil dan tujuan yang rendah pula. Oleh karena itulah tujuan spiritualisasi islam itu ada tingkatannya. Walaupun tingkatan tersebut sama sifatnya sama yakni ketaatan juga namanya. Tetapi tujuan spiritualisasi bagi tingkatan awam tidaklah sama dengan tujuan spiritualisasi islam bagi orang khusus dan istimewa. Karena adanya kadar perbedaan kemampuan dan kesungguhan yang dimiliki, sehingga membawa kepada perbedaan tingkat dan kwalitas ketaatan.
            Ada empat tingkatan manusia taat yang ingin di bentuk al ghozali dengan tujuan spiritualisasi islamnya. Pertama tingkatan ketaatan orang awam atau sederhana.(al’adl), kedua tingkatan ketaatan orang yang saleh, ketiga tingkat ketaatan  orang yang taqwa atau muqqorib. Keempat tingkat ketaatan orang yang benar lagi arif (assidiqin dan al– arifin). Ketaatan orang awam merupakan tujuan minimal dari spiritualisasi islam sedangkan tujuan maksimal tertinggi dari spiritualisasi adalah ketaatan orang yang benar lagi arif, tingkatan yang dekat dengan nabi dan rosul.tingkatan pertaman sampai ketiga pada umumnya dapat dicapai manusia asalkan ia mau bermujahadat. Apabila orang yang sudah sampai pada tingkatan ketiga ia akan mudah sampai pada tingkat ke empat. Tingkat keempat merupakan tingkat yang paling tinggi karena Allah telah menyatakan dalam Ai- Qur’an bahwa orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling tinggi tingkat ketaatannya. 
Kita sadar akan adanya makna simbolik kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari – hari. Yang selalu mengawasi atau melihat kita di dalam diri kita maupun gerak kita dimanapun dan kapanpun. Jadi spiritualitas yang tinggi yang dimilii sezseorang yang dapat dijadikan control tindakan manusia.